Kamis, 01 Agustus 2013

SIKAP MBAH DELAN


Oleh : Rijal Pakne Avisa
KH. Adlan Aly, pengasuh PP. Putri Walisongo Cukir Jombang yang wafat 6 Oktober 1990, dikenal sebagai sosok yang wira'i, zuhud, dan tawaddhu'. Selain itu, Mursyid Thariqah Qadiriyah Wa Naqsabandiyah ini hampir pasti mendatangi setiap undangan. Bahkan, dalam usia senja, Mbah Delan—sapaan sayang para santri dan masyarakat—rela dibonceng sepeda motor meskipun jarak tempuhnya hampir 30 KM.

Siapa yang menyangka jika kiai yang selalu merendah di hadapan lawan bicaranya ini adalah jago balap mobil di masa muda. "Waktu lampu mobil masih pakai karbit, saya sudah suka ngebut, sekitar tahun 1925," terang Mbah Delan pada seorang tamu dari UGM yang mewawancarainya, sebagaimana ditulis ulang oleh Gus Dur dalam buku “Kiai Nyentrik Membela Pemerintah”.

Sungguh, sebuah hal yang kontras dengan penampilannya di usia senja; sorban yang tak pernah lepas dari kepala dan bahunya, dua tanda hitam di dahinya akibat kebiasaan sujud yang lama, serta doa wiridnya yang begitu panjang sehabis shalat. Belum lagi hafalan penuhnya atas kitab suci, serta kependekarannya di gelanggang bahtsul masail. Jauh sekali dari bayangan semula sebagai pemuda kaya jago ngebut di zaman mobil berlampu karbit.

Yang unik, Mbah Delan mencatat rekor 26 kali pergi haji. Sebuah prestasi yang langka. Meski begitu, saat mendidik puluhan santri, rumahnya hanya sepetak mirip kios pasar. Ruang muka difungsikan sebagai ruang tamu tanpa kursi. Setiap tamu yang berkunjung biasanya memilih di atas jam delapan pagi. Sebab, murid kesayangan Hadratussyekh M. Hasyim Asy'ari ini baru selesai wiridan sejak habis shubuh hingga pukul delapan!

Suatu ketika, kisah Gus Mus, saat sedang mengajar para santri, Mbah Delan melihat ada seorang santri yang terlambat; datang dengan bersijingkat seperti takut atau malu. Spontan Mbah Delan menundukkan kepala dalam-dalam, sengaja memberi kesan kepada santrinya yang baru datang bahwa dia tidak melihat keterlambatannya (Gus Mus menceritakan sepenggal kisah Mbah Delan dalam beberapa baris kalimat dalam facebook-nya, sekitar 2009 silam).

Pernah suatu saat, ketika Mbah Delan duduk di Syuriah PWNU Jatim, bersama rombongan PCNU Jombang mengikuti rapat di kantor PWNU Jatim—saat itu di Jl. Raya Darmo Surabaya—hingga larut malam. Sewaktu mau bertolak pulang, rombongan mengeluh lapar, haus, dan letih. Akhirnya diputuskan mencari restoran di sekitar daerah Wonokromo. Lumayan ada restoran buka, meski sudah pukul satu dinihari. Begitu rombongan turun dari mobil, spontan disambut gembira pemilik restoran yang bermata sipit. Tahu hal itu, Mbah Delan bilang, "Kulo nginum mawon," (saya minum saja!). Serta merta rombongan ikut-ikutan ambil teh botol, meski perutnya protes keroncongan. Dalam perjalanan pulang, kepada rombongan Mbah Delan hanya bertutur lirih, "Kulo namung ajrih, menawi katutan daging babi," (Saya hanya takut, [masakannya] bercampur daging babi).
----
Lahul Fatihah
 https://www.facebook.com/gusdurhumor/posts/10151768792591665

1 komentar:

  1. sungguh beliau memang seorang kyai yang perilakunya bisa menjadi uswah bagi umatnya, saya adalah salah satu dari santri beliau yang sangat bersyukur kdp Alloh telah diperkenankan bisa bersua, belajar dan nyantri kepada beliau, semoga ilmu yang beliau transfer bisa saya terapkan dalam keseharian saya shg beliau tdk kecewa memiliki santri seperti saya, amin

    BalasHapus