Jumat, 11 April 2014

2 WABAH PENYAKIT HATI YANG MELANDA UMAT ISLAM SAAT INI

Berkaca pada apa yang terjadi di negara kita saat ini, dimana betapa nilai, harga diri, martabat dan kesuksesan seseorang hanya dilihat dari materi dan jabatan yang dimiliki. Agama hanyalah alat, kopyah, sarung dan yang lain lain hanyalah simbolis untuk mencapai tujuan. Mereka rela mengeluarkan banyak uang bahkan berhutang diluar kemampuan, kemudian tersenyum difoto, ditempel dipinggir jalan untuk satu tujuan yaitu meningkatkan martabat, jabatan, orang sukses atau apalah sebutannya. Mereka sedang sakit, lebih umumnya masyarakat kita sedang sakit, parah banget. Apakah ini yang disebut demokrasi terbaik? inikah america"s style? Mungkin inilah artikel yang bisa menjelaskan.

2 WABAH PENYAKIT HATI YANG MELANDA UMAT ISLAM SAAT INI
DARI Tsauban Ra. berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda; “Hampir tiba suatu zaman di mana bangsa-bangsa dari seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang kelaparan mengerumuni talam hidangan mereka.”
Maka salah seorang sahabat bertanya, “Apakah karena kami sedikit pada hari itu?”
Nabi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Bahkan kamu pada hari itu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa gentar terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan melemparkan ke dalam hati kamu penyakit ‘wahn’. Seorang sahabat bertanya: “Apakah ‘wahan’ itu, hai Rasulullah?”
Rasulullah menjawab: “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Abu Daud).
Benar apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut. Keadaan umat Islam pada hari ini, menggambarkan kebenaran apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Umat Islam walaupun dalam jumlahnya banyak, yaitu 1000 juta 1/5 penduduk dunia), tetapi sering menjadi tuduhan negatif dan menjadi alat permainan bangsa-bangsa lain.
Mereka ditindas, diinjak-injak, dibantai dan sebagainya. Bangsa-bangsa dari seluruh dunia walaupun berbeda agama, mereka bersatu untuk melawan dan melumpuhkan kekuatan umat Islam. Ketika itu tidak ada persatuan berdasarkan Iman dan Islam namun bisa jadi semua karena sarat kepentingan, dan egoisme yang secara tidak sadar kita pun mengalaminya dalam sebagian sisi kehidupan.
Sebenarnya, sebab kekalahan kaum Muslimin adalah dari dalam diri kaum Muslimin itu sendiri, yaitu adanya penyakit “wahn” yang merupakan penyakit campuran dari dua unsur yang sering wujud dalam bentuk kembar dua, yaitu “cinta dunia” dan “takut mati”.
Kedua penyakit ini tidak dapat dipisahkan. “Cinta dunia” bermakna tamak, rakus, bakhil dan tidak mau menyumbangkan harta di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala “Takut mati” bermakna senang dengan kehidupan dunia dan tidak membuat persediaan untuk menghadapi negeri akhirat, mengacuhkan urusan Agama dalam kehidupan untuk saling memperbaiki dan tidak ada perasaan untuk berkorban dengan diri dan jiwa dalam memperjuangkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Waktu yang ada hanya memikirkan pribadi, tidak turut memikirkan agama Allah, dan tidak peduli dengan saudara-saudara kita, keluarga yang jauh dari Agama.
Takut mati diantaranya bisa dikatakan takut menderita didunia yang akhirnya meninggalkan urusan memperbaiki Agama. Lebih takut kepada seseorang dan mengabaikan perintah Allah. Dst
Kita berdoa semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala, menurunkan pertolongan (nushrah)Nya kepada kaum muslimin dan memberikan kepada mereka kemenangan di dunia dan di akhirat.
Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad , atas segenap keluarga dan sahabat beliau.
Aamiin Ya Rabbal'alamiin

Kamis, 10 April 2014

Amplop dari Caleg dan Rejeki Pedagang

Ini adalah sekedar cerita ringan dari Mas Edy Prianto untuk FB Suara Gresik. Cerita ini adalah gambaran tentang Pileg dinegara kita yang ketika memasuki masa tenang tetapi umeg atau riuh dikalangan bawah dimana mereka berebut menangkap amplop dari Caleg yang beterbangan. Monggo disimak.

 Bebek Goreng dan Pileg 2014
Sepintas pengambilan judul tersebut sama sekali tidak ada keterkaitan, akan tetapi dalam kenyataannya sangat berhubungan.
Bebek Goreng Cak No yang biasa mangkal di seputaran wilayah Kedanyang berbatasan dengan Sekarkurung Gresik, hari itu tidak menyangka dagangannya begitu laris manis sampai tidak tersisa hanya dalam waktu 2 jam. Pembeli berjubel dan rata2 menyodorkan uang 50 ribu rupiah untuk pembayarannya.
Tepat pukul 5 sore seperti biasa dia sudah menggelar dagangannya dengan mempersiapkan tenda dan beberapa pipa2 penyangga. Dia tidak menyadari bahwa sudah banyak warga yang menunggu. Cak No, begitu dia biasanya disebut akhirnya tidak sempat memasang tenda warga sudah tidak sabar untuk segera dilayani.
Hari itu tanggal 9 April 2014 yang juga bersamaan dengan Pemilihan Legislatif 2014. Wajah2 suka cita dan sangat berharap untuk segera mendapat pelayanan mengerubungi Cak No. Diantara pembeli ternyata banyak yang bertetangga atau minimal 1 wilayah perumahan jadi saling mengenal.
"Oleh piro Mbak Tutik ...? Alhamdulillah aku oleh 3 sak keluargaku 5 oleh kabeh. Onok sing ngekei selawe, seket karo satus dadi per uwong oleh satus pitu limo lumayan kenek digawe tambahan blonjo karo yo wis suwe kepingin tuku bebek lagek keturutan saiki hehehe ...." Coleteh seorang wanita kurus yang setelah oborolan diketahui bernama Ani.
Akhirnya Cak No mengetahui bahwa ramainya pembeli hari itu karena banyak warga yang terima duit dari PESTA RAKYAT Pemilihan Legislatif 2014.
"Kulo menawi ngertos lek rame kados ngeten, kulo tambahi dodolane khan nggih saged ngraosaken arto saking dum-duman" kata Cak No setengah menyesal hanya bisa menyediakan jualan dengan porsi seperti biasanya ketika ditanya mengenai cepat habisnya Nasi Bebek kesukaan penulis.

Rabu, 09 April 2014

Puisi yang Menyadarkanku

Inilah Puisi dari Alm. W.S. Rendra yang tak pernah bosan aku membacanya, yang mengingatkan kita atas kesejatian diri kita.

Renungan Indah - W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-NYA
Bahwa rumahku hanyalah titipan-NYA
Bahwa hartaku hanyalah titipan-NYA
Bahwa putraku hanyalah titipan-NYA

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-NYA itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-NYA harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-NYA yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja".

(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya di atas ranjang RS)

Kamis, 03 April 2014

Si SuziYate W3084KQ, 4 Bulan 12.000KM

Tidak terasa sudah 12.000KM si SuziYate-ku. Sudah 5 kali servis resmi dan bau barang barunya sudah ilang. Pada dasarnya ekspektasiku sewaktu membeli si SuziYate tidaklah berlebihan hanya pingin motor yang tempat duduknya panjang dan lebar (maklum biasa diisi istri dan 3 anak) dan tingkat kenyamanan yang baik karena sehari minimal dipakai PP kerja 75 KM. Yang agak mengecewakan waktu itu adalah la kok masih karburator apalagi sekarang lagi gencar-gencarnya teknologi injeksi yang dibilang irit dan ramah lingkungan.
Nah faktanya…. jujur aja melebihi ekspektasi. Istri yang sebelumnya no reken jadi memuji deh.
Tempat duduk untuk 5 orang? Siip tidak ada masalah meski yang depan mungkin duduknya agak nggantung. Dibanding motor lama sekarang jalan jalan ke Surabaya atau Gresik jadi no Problemo, mantap. si krucil juga gak terlalu capek.
Tentang kenyamanan? Wiih mantap pool. Jarak 75 KM PP nyantai gak terasa capek atau pantat panas. Padahal kalau motor yang  dulu 10 KM sebelum tujuan sudah bolak balik angkat pantat, panas dan penat.
Nilai Plus lain untuk si SuziYate yang sebelumnya tidak terfikirka tapi ternyata sangat berguna antara lain : Tempat penyimpanan di bawah jok dan didepan mantap pool, belanja berapapun banyaknya gak masalah tinggal taruh bawah jok. Ban Dunlop juga luar biasa sampai saat ini ditulis belum sekalipun bocor depan dan belakang. Apalagi ya… emmm seneng aja jadi pusat perhatian karena jarang yang tahu dan jarang yang punya.
Untuk service tidak ada masalah, banyak beres bertebaran di Surabaya. Sempat mencoba beberapa tempat tapi keliatannya yang mantap ada di Suzuki Bubutan, setelannya ok, mekaniknya komunikatif dan habis service disitu pemakaian BBM irit seperti semula yaitu +- 38 KM/Liter.
Kedepan kalau ada sedikit simpanan pinginnya ganti footstep belakang dengan yang ada karetnya atau yang lebih panjang, kasihan istri dan anak sering rebutan footstep. Trus ganti gantungan barang dengan yang ada penguncinya untuk naruh backpacker didepan. Yang pingin lagi adalah nutup beberapa sticker yang ada di body si SuziYate, Jujur aja strippingnya menurutku kurang bagus.

Jadi Kesimpulannya adalah Nyesel Beli si SuziYate, kenapa gak dari dulu dulu aja belinya la wong enak tenan.

Enak Jamanku To?

Ada salah satu kampanye dari satu partai yang dulu sebagai penguasa orde baru. Mereka bilang jaman paling enak dari semua presiden adalah jaman ketika partai mereka berkuasa (atau lebih tepatnya golongan, karena saat itu mereka tidak mau disebut partai).

Yang menjadikan saya bingung adalah bukankah pada waktu itu partai atau golongan adalah "hanya" sebuah alat atau dijadikan alat untuk berkuasa, tugas mereka hanya bilang setuju..... Jadi yang hebat Sang Jendral Besarnya bukan partai/golongannya, dan lagi ini yang amat penting ketika reformasi berlangsung mereka juga bilang dan berubah sebagai "partai" yang reformis dan terlepas dari masa lalu yang masih berupa "golongan" yang dianggap bertanggung jawab atas terpuruknya negeri waktu itu. La kok sekarang mereka mengklaim masa "Enak Jamanku To?" sebagai masa keemasan mereka.

Jika mereka merasa jaman itu adalah jaman keemasan mereka, berarti partai lain yang berwarna Hijau dan Merah juga bisa mengklaim juga. Kenapa? Karena dijaman itu tidak ada oposisi, semua mendukung sang Jendral Besar dan punya andil juga di masa "Enak Jamanku To?".

Dan jika memang "Enak Jamanku To?" itu enak maka hampir seluruh partai yang ada sekarang punya kontribusi juga. Karena Wiranto, Prabowo, Surya Paloh, atau yang dipartai lain juga lulusan jaman "Enak Jamanku To?"

Mboh lah? bingung jungkir walik mikiri partai.... seng penting joged eh nyoblos.

Selasa, 01 April 2014

Setelah Baca Ini, Jangan Lagi Menidurkan Anak dengan Lagu Nina Bobo


Ternyata cerita di balik lagu Nina Bobo itu serem! – Lagu nina bobo yang sering dinyanyiin sama orang tua kita ternyata menyimpan cerita tragis yang menyeramkan. Setelah baca tulisan ini, saya gak pernah lagi nyanyikan lagu ini untuk menidurkan anak, sebagai gantinya lagu Oplosan, yuk Keep Smile atau pokoke Joged. Dijamin anak langsung jingkrak-jingkrak kecapekan langsung tidur. mantap....

Menurut informasi begini ceritanya:


index

Beberapa tahun setelah kedatnagn Cornelis de Houtmen di Banten, Belanda sudah memadati pulau Jawa. Salah seorang anak Belanda yang hidup di Jawa adalah Nina. Gadis kecil yang bernama lengkap Nina Van Mijk. Nina berasal dari keluarga komposer musik klasik sederhana yang menetap di Nusantara untuk memulai hidup baru karena terlalu banyak saingan musisi di Belanda.

Semua kehidupan Nina gak ada yang aneh, hingga suatu malam petir menyambar-nyambar langit tak berhenti hingga memekakkan telinga. Nina yang tidur seorang diri di kamar ketakutan melihat kilatan petir dari jendela.

Kemudian, Nina menjerit kencang sekali diikuti oleh suara vas bunga yang jatuh dan pecah berantakan. Orang tua dan segenap isi rumah berlari menuju kamar Nina, namun pintu terkunci dari dalam. Sehingga ayahnya terpaksa mendobrak.

Satu pemandangan mengerikan disaksikan oleh keluarga itu, terlihat diranjang tidur Nina melipat tubuhnya kebelakang persis dalam posisi kayang merayap mundur sambil menjerit – jerit dan sesekali mengumpat – ngumpat dengan bahasa Belanda. Rambutnya yang lurus pirang menjadi kusut tak keruan, kelopak matanya menghitam pekat. Itu bukan Nina, itu adalah jiwa jahat yang bersemayam ditubuh Nina. Nina kerasukan.
Selama seminggu setelah kejadian itu, Nina dipasung dalam kamar. Keadaan tubuhnya memburuk, tubuhnya kurus, wajahnya pucat. Ibunya menangis sepanjang malam saat mendengar anaknya menjerit-jerit tengah malam. Sementara ayahnya tak tahu harus berbuat apa.

Akhirnya Ayahnya pulang ke Belanda dan pembantunya pun kabur entah ke mana karena takut. Di rumah itu hanya tinggal ibunya dan Nina yang tak terurus.

Kembali lagi pada satu malam badai, namun aneh, kala itu terdengar Nina tidak lagi menjerit – jerit. Kamarnya begitu hening. Perasaan ibu Nina bercampur aduk antara bahagia dengan takut. Bahagia bila ternyata anaknya sudah sembuh, tetapi takut bila ternyata anaknya sudah meninggal.

Ibu Nina mengintip dari sela – sela pintu kamar Nina, dan ternyata Nina sedang duduk tenang diatas ranjangnya. Tak berkata apa – apa tapi sejurus kemudian dia menangis sesengukan. Ibu Nina langsung masuk kedalam kamarnya dan memeluk Nina erat – erat dan melepas tali tambang yang melilit tangannya.
“Ibu, aku takut…” ujar Nina sambil menangis.

Ibunya mencoba menenangkan Nina dan mengajaknya makan karena melihat kondisi tubuh anaknya yang tak karuan. Namun Nina menolak untuk makan. Nina justru ingin tidur karena tubuhnya sangat lemah.
“Aku ngantuk, rasanya aku akan tertidur sangat pulas. Maukah ibu nyanyikan sebuah lagu pengantar tidur untukku?”

Akhinya Ibunya menyanyikan lagu ‘Nina Bobo’ yang sering kalian dengar saat ini. Setelah sebait lagu itu Nina terlelap damai dengan kepala dipangkuan ibunya, wajah anggunnya telah kembali. Ibu Nina menghela nafas lega, anaknya telah tertidur pulas.

Tapi…
Nina tidak bergerak sedikit pun, nafasnya tidak terdengar, denyut nadinya menghilang, aliran darahnya berhenti. Nina telah tertidur benar – benar lelap untuk selamanya dengan sebuah lagu ciptaan ibunya sebagai pengantar kepergian dirinya setelah berjuang melawan penderitaan.

Begitulah cerita di balik lagu Nina Bobo. Tragis benget, ya Gan…

Source : http://pribadimanfaat.blogspot.com/2014/03/ternyata-cerita-di-balik-lagu-nina-bobo.html

Memang Betul, Hutang Membuat Kita Menderita

Saran saya, mulai sekarang sebisa mungkin jauhi hutang, meskipun amat sulit di jaman seperti sekarang ini dimana mana kredit... dit...dit. Minimal tanamkan kepada anak kita jangan berhutang!!! kalau kita sudah terlanjur ya mau gimana lagi.
Seperti kutipan Nasehat Lukman Al-Hakim Kepada Anaknya.

“Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan ibadah, dan hilang pulalah ketulusan dan kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir.”

“Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu, dewasa kelak engkau akan memetik buahnya dan menikmatinya.”

“Anakku, ikutlah engkau pada orang-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan. Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu.”

“Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku juga sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.”

“Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan.”

“Anakku, aku sudah mengalami penderitaan dan bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggung utang.”

“Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para nabi. Kalimat itu adalah:

1. Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik.
2. Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.
3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu.
4. Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu.
5. Ingatlah Allah selalu.
6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu
7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.
8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.”